EMPAT ALIRAN BESAR DALAM TANTRAYANA
Seperti yang
sudah kita ketahui, dalam agama Buddha terdapat banyak mazhab dan aliran. Di
Indonesia itu sendiri ada tiga aliran besar dalam agama Buddha yaitu Theravada,
Mahayana dan Tantrayana. Tapi apakah kamu tahu bahwa dalam Tantrayana masih
terdapat berbagai aliran tersendiri? Tantrayana secara umum dibagi menjadi
empat aliran besar yang berasal dari empat silsilah besar, dan berikut adalah
penjelasan singkat mengenai empat aliran tersebut.
1.
Silsilah Nyingmapa
Silsilah Nyingma atau yang juga disebut dengan silsilah Terma merujuk pada
Buddha Samantabhadra, Vajrasattva, dan Garab Dorje dari Uddiyana. Mahaguru
Padmasambhava dari India juga merupakan sosok yang paling penting dalam
silsilah ini mengingat bahwa Mahaguru Padmasambhava lah yang mendiirkan
silsilah ini. Mahaguru Padmasambhava pertama-tama datang ke Tibet pada abad kedelapan atas dasar
undangan dari Raja Mindrolling Trichen Trisong Deutsan (742-797) untuk melenyapkan kekuatan jahat sembari
mendirikan pusat pengajaran agama Buddha di Tibet. Mahaguru Padmasambhava juga
dikenal sebagai Guru Rinpoche atau guru yang amat berharga. Bertahun-tahun kemudian,
Guru Rinpoche dan Abbot Shantarakshita mengajarkan semua sutra dan tantra
secara menyeluruh di Tibet. Baru setelah itu, Mahaguru Padmasambhava
menyembunyikan ratusan Terma (ajaran dan petunjuk) dalam bentuk kitab suci,
gambar, artikel/teks upacara agama, yang hanya dapat ditemukan oleh orang
tertentu dimasa depan yang telah memiliki pencapaian tertentu. Sebagian dari
Terma ini telah ditemukan dan diajarkan secara rahasia dari guru ke murid
sehingga pada akhirnya muncullah istilah silsilah Terma (wahyu). Pada saat ini
pimpinan silsilah Nyingma adalah Yang Mulia Mindrolling Trichen Rinpoche, yang juga
mendirikan Biara Mindrolling di Clementown, Dehradun, India.
2.
Silsilah Sakyapa
Silsilah Sakyapa dimulai dari seorang yogi besar India bernama Virupa (abad
ke-9). Virupa merupakan salah satu dari 84 Mahasiddhas terkenal yang memiliki
pencapaian dan mampu untuk melakukan berbagai keajaiban. Silsilah ajaran ini
diturunkan kepada seorang murid bernama Drokmi Lotsawa Shakya Yeshe (992-1072 )
melalui Gayadhara (994-1043). Selanjutnya Drokmi Lotsawa menurunkan silsilah
ajaran ini kepada murid utamanya, yaitu Khon Könchok Gyalpo (1034-1102). Murid
utama Drokmi Lotsawa ini kemudian membangun sebuah biara besar di pusat Tibet
di daerah Tsang. Bisa dibilang, tradisi garis silsilah Sakya berhubungan erat
dengan Keluarga Khon. Keluarga Khon itu sendiri menurut sejarahnya berasal dari
makhluk sempurna yang memiliki pencapaian tinggi. Silsilah ini terus berlanjut
sampai sekarang dengan Yang Mulia Sakya Trizin (Ngakwang Kunga Thekchen Palbar
Samphel Ganggi Gyalpo) sebagai pemimpin silsilah ajaran Sakyapa. Walaupun lahir pada tahun 1945 di Tsedong
Tibet, Yang Mulia Sakya Trizin tinggal di Rajpur India. Demi kebahagiaan semua
makhluk Yang Mulia Sakya Trizin juga melakukan perjalanan ke seluruh dunia
untuk menyebarkan ajaran silsilah Sakyapa.
3.
Silsilah Kagyudpa
Silsilah Kagyudpa dimulai dari Mahasiddha agung Tilopa (988-1069) yang juga
merupakan salah satu dari 84 Mahasiddhas besar India. Tilopa adalah yang
pertama kali mengembangkan wawasan spontan. Pencapaian ini diperoleh Tilopa melalui
metode yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni kepada murid terdekatnya. Sebenarnya,
Tilopa bukanlah manusia biasa. Ketika masih muda, ada sesosok Dakini dengan tampang
seram yang menampakkan diri di hadapan Tilopa. Saat Tilopa menanyakan asal usul
status keluarganya Dakini tersebut menjawab “Negerimu adalah Udiyana, ayahmu
adalah Chakrasamvara, ibumu adalah Vajrayogini”.
Garis silsilah Kagyudpa diturunkan TIlopa kepada Naropa (1016-1100) yang
kemudian diteruskan kepada Marpa Lotsawa (1012-1097) dan Milarepa (1052-1135).
Milarepa merupakan seorang Yogi terkenal di Tibet yang dapat mencapai
pencerahan dalam 1 kehidupan. Disamping karena keuletan, kerja keras tanpa
mengenal lelah sedetik pun dan devosi yang besar terhadap Dharma, Milarepa dapat
memperoleh pencerahan di bawah bimbingan yang amat keras dari sang Guru Marpa
Lotsawa. Milarepa kemudian menurunkan silsilah ini kepada Gampopa (1079-1153),
yang kemudian diturunkan kembali kepada Karmapa I – Dusum Kyenpa (1110-1193)
dan terus berlanjut sampai sekarang Karmapa XVII - Ogyen Trinley Dorje. Perlu
diketahui juga bahwa Yang Mulia Karmapa XVII - Ogyen Trinley Dorje, yang merupakan
reinkarnasi ke-17 Karmapa diyakini sebagai emanasi dari Bodhisattva Chenrezig.
Bodhisattva Chenrezig akan menjadi Buddha ke-6 yang membabarkan Dharma pada
masa yang akan datang dengan nama Buddha Simha setelah Boddhisatva Maitreya yang
akan terlahir kembali terakhir sebagai Pangeran Ajita menjadi Buddha ke-5.
Dalam Kalpa ini akan ada 1002 Buddha dan Buddha Simha (H. H. Karmapa) telah
diramalkan oleh Buddha Sakyamuni dalam
Bhadrakalpa Sutra yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Pada saat ini silsilah
Kagyudpa dapat dibagi menjadi 4 aliran besar dan 8 aliran kecil.
4.
Silsilah Gelugpa
Silsilah Gelugpa diajarkan oleh Atisha (982-1054), seorang guru besar dari
India. Silsilah ini sebenarnya berasal dari tradisi Kadampa dan didirikan oleh
seorang guru besar Tibet bernama Je Tsongkhapa Lobsang Drakpa (1357-1419).
Biara Gaden (Drok Riwo Ganden) yang merupakan pusat pengajaran silsilah Gelugpa
juga didirikan oleh Je Tsongkhapa. Pemimpin silsilah Gelugpa disebut dengan
Gaden Tripa Rinpoche yang berarti pemegang takhta. Sejak tahun 2003 sampai
dengan saat ini, pemegang silsilah ke-101 dari Gaden Tripa Rinphoce adalah Yang
Mulia Gaden Tripa Rinpoche Khensur Lungri Namgyel. Selain Yang Mulia Gaden
Tripa Rinpoche , tokoh lain yang tidak kalah terkenalnya adalah Yang Mulia
Dalai Lama XIV. Seperti yang kita ketahui, selain sebagai seorang spiritual, Yang
Mulia Dalai Lama XIV juga merupakan seorang tokoh politik Tibet yang disegani oleh
berbagai pihak di dunia.
Disadur dari www.wikipedia.com
Komentar
Posting Komentar