7 Hal Pembuat Depresi pada Anak- Anak
Pada zaman
sekarang, terutama di kota-kota besar, kasus anak-anak menderita depresi yang berujung
pada kasus bunuh diri menjadi semakin banyak. Hal ini patut disayangkan
mengingat anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus dilindungi.
Tentunya dibalik meningkatnya kasus depresi pada anak-anak tersebut, pasti ada
beberapa hal yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Dan berikut adalah
beberapa pendorong timbulnya depresi pada anak-anak :
1.
Stres
Anak-anak jaman sekarang terutama yang tinggal di kota besar dikelilingi oleh
banyak faktor pemicu stres. Tuntutan berprestasi di sekolah atau dalam kegiatan
olahraga dan seni, tugas yang menumpuk, serta tekanan lingkungan seperti macet
dan kasus bullying. Stres melemahkan hampir semua sistem biologi dalam tubuh
dan membuat tubuh terus menerus memproduksi kortisol. Hal ini menyebabkan
mudahnya anak-anak mengalami perubahan emosi yang dramatis sehingga mudah untuk
menjadi depresi. Untuk itu sangat diperlukan bagi anak-anak melakukan kegiatan
dengan rasional untuk menghindari berbagai faktor stres.
2.
Broken
Homes
Permasalahan dalam keluarga seperti perceraian, pertengkaran antara kedua
orang tua terus menerus dapat mempengaruhi secara signifikan perilaku dan
psikologi anak. Riset yang dipublikasikan dalam Journal of Marriage and Family
menunjukkan bahwa anak -anak dengan orang tua yang bercerai memiliki risiko lebih
tinggi menjadi depresi karena perasaan tertekan yang lebih besar dibandingkan
anak-anak dari keluarga yang utuh.
3.
Porsi
Bermain yang Kurang
Bermain adalah salah satu kebutuhan yang penting bagi anak-anak. Dengan
bermain, otak mempunyai kesempatan untuk berkembang dan belajar karena pada
saat bermain anak-anak dapat belajar memecahkan masalah, mengontrol
kehidupannya sendiri, mengembangkan kompetensi serta mengeksplorasi minat dan
bakatnya. Pakar gangguan mental pada anak Peter Gray, PhD menyebut, kurang
bermain secara aktif membuat anak tak mampu pecahkan masalah dan tidak
kompeten.
4.
Kecanduan
Game Online
Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan salam American Journal of
Industrial Medicine, anak-anak yang bermain game lebih dari lima jam sehari di
depan layar komputer, tablet, smartphone atau bermain game console lainnya memiliki
kecenderungan lebih mudah depresi dan mengalami masalah emosional. Selain itu,
bermain game lebih dari 20 jam seminggu dapat menyusutkan sel otak yang
berhubungan dengan rasa empati dan persahabatan.
5.
Terlalu
Banyak Mengonsumsi Gula
Pada saat ini anak-anak sangat sering mengonsumsi berbagai jenis makanan
yang mengandung gula seperti kue-kue, permen dan minuman berkarbonasi. Analisa
yang dibuat oleh Malcolm Peet, seorang peneliti dari Inggris, menunjukkan bahwa
tingginya konsumsi gula berhubungan erat dengan maraknya kasus depresi dan
skizoprenia. Hal ini disebabkan karena gula dapat menekan aktivitas hormon
pertumbuhan di otak, dan berdasarkan penelitian penderita depresi ataupun
skizoprenia memiliki hormon pertumbuhan di otak yang rendah.
6.
Penggunaan
Antibiotika dalam Jangka Panjang
Obat-obatan antibiotika dapat merusak keseimbangan bakteri usus yang
berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Berdasarkan hasil riset
seorang peneliti dari McMaster University pada beberapa ekor tikus, tikus-tikus
yang diberi antibiotika dalam jangka panjang menjadi lebih mudah cemas. Tidak
hanya itu, tikus tersebut juga mengalami gangguan pada bagian otak yang
mempengaruhi emosi serta perasaan.
7.
Terpapar
Racun
Pada
saat ini, lingkungan telah banyak dicemari oleh berbagai jenis racun. Mulai
dari pestisida tanaman, bahan pembersih, pengawet, bahan makanan yang tercemar
oleh logam berat sampai dengan pencemaran udara karena emisi kendaraan dan
industri. Dalam buku Mark Hyman yang berjudul The UltraMind Solution, dampak
dari paparan racun antara lain adalah depresi dan gelisah tanpa sebab. Adapun
untuk menghilangkan gejala depresi tersebut, kita dapat melakukan detoksifikasi.
Komentar
Posting Komentar