Tuan Tanah dan Ibu Mertua yang Tuli

Sejak jaman dahulu kala, sudah terdapat banyak sekali cerita-cerita penuh makna yang jarang sekali diketahui oleh khalayak ramai. Di postingan kali ini akan diceritakan kembali sebuah cerita Buddhis penuh dengan makna tentang seorang tuan tanah yang sangat baik hati dan ibu mertuanya yang tuli. Untuk mengetahui makna dan pesan moral apa saja yang terkandung didalamnya, mari kita simak kisah singkat ini.



Ketika berada di Jetavana, Sang Guru menceritakan cerita tentang seorang ibu mertua yang tuli dan tuan tanah. Pada suatu masa yang lampau, ada seorang tuan tanah di Savatthi. Tuan tanah tersebut adalah seseorang yang percaya serta berlindung di bawah Tri Ratna dan juga menjalankan lima sila. Suatu hari, dia pergi untuk mendengarkan khotbah Sang Guru di Jetavana dengan membawa banyak sekali mentega cair, berbagai jenis rempah-rempah, bunga-bunga, wewangian dan yang lainnya. Di waktu yang sama, ibu mertuanya yang memiliki masalah pendengaran datang mengunjungi rumah tuan tanah sambil membawa bingkisan makanan.

Setelah makan, sang ibu mertua bertanya kepada anaknya dalam keadaan mengantuk,” Nak, apakah hidup kalian bahagia ? apakah kalian berdua saling akur ? ”
“Mengapa Ibu bertanya seperti itu ? Ibu bahkan tidak akan mudah mencari seorang pertapa suci yang sangat baik dan berbudi seperti dirinya” jawab anaknya.

Sang Ibu yang tidak begitu jelas pendengarannya hanya bisa mendengar kata “pertapa”. Ia pun langsung menjerit keras. “Oh anakku, mengapa suami mu menjadi seorang pertapa ?” Dia bertanya dengan gaya yang berlebihan sehingga semua orang yang berada di dalam rumah itu dapat mendengarnya. Segera setelah itu semua orang di dalam rumah ikut berteriak, “ Berita Baru ! Tuan tanah telah menjadi seorang pertapa !” 
Mendengar keributan di dalam rumah itu, orang-orang segera datang berkumpul di depan pintu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka pun mendengar suara ”Tuan tanah yang tinggal di rumah ini telah menjadi pertapa!”

Sang tuan tanah sendiri sedang dalam perjalanan pulang kembali ke kota setelah mendengar khotbah dari Sang Buddha. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya kepada tuan tanah “Kenapa Tuan? Mereka mengatakan anda telah menjadi seorang petapa. Seluruh keluargamu dan pelayanmu sedang menangis di rumah.”

Mendengar hal tersebut, sang tuan tanah berpikir, “Orang-orang mengatakan bahwa saya telah menjadi pertapa meskipun sebenarnya saya tidak melakukan hal seperti itu. Ini adalah sebuah ucapan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Baiklah, hari ini juga saya akan menjadi seorang pertapa.”
Tuang tanah pun segera berjalan kembali menuju ke vihara dan bertemu dengan Sang Guru. “Tadi anda telah mengunjungi Sang Buddha dan saya telah melihatmu pulang” kata Sang Guru. ”Kiranya apa yang membawamu kembali lagi ke sini ?”

Sang Tuan tanah kemudian menceritakan semuanya kepada Sang Guru dan berkata “Sebuah ucapan yang baik tidak boleh diabaikan, Bhante. Demikianlah sekarang saya berada di sini dan ingin menjadi seorang pertapa”. Kemudian dia pun dithabiskan dan diupasampada serta menjalani kehidupan yang bijak. Dalam waktu singkat, dia pun mencapai tingkat Arahat.

Kisah ini diketahui oleh para Bhikkhu. Suatu hari, mereka membicarakannya di dalam balai kebenaran “Avuso, si tuan tanah menjalankan kehidupan suci sebagai seorang pertapa karena dia mengatakan ‘suatu ucapan beruntung tidak boleh diabaikan’. Sekarang dia mencapai tingkat kesucian Arahat”  Kemudian Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pun memberitahu beliau. Sang Guru akhirnya berkata, “Para Bhikkhu, ada orang bijak di masa yang lampau juga menjadi seorang pertapa karena ia mengatakan bahwa suatu ucapan yang baik tidak boleh diabaikan.”
Sang Guru kembali menceritakan sebuah kisah.

Dahulu kala, ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, sang Bodhisatta terlahir sebagai anak dari seorang saudagar kaya. Ketika dewasa, dia pun menggantikan kedudukan ayahnya setelah ayahnya meninggal.
Suatu saat dia pergi mengunjungi raja dan di waktu yang sama ibunya yang memilliki kesulitan mendengar sedang mengunjungi anaknya. Kemudian hal yang sama terjadi seperti apa yang telah diceritakan sebelumnya. Sang Boddhisatta saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari istana ketika dia berjumpa dengan seseorang di tengah jalan. Orang tersebut juga berkata, “Mereka mengatakan anda telah menjadi seorang pertapa dan telah terjadi kegemparan di rumahmu”
Bodhisatta pun memiliki pendapat yang sama dengan si tuan tanah itu bahwa ucapan yang baik tidak boleh diabaikan. Bodhisatta kemudian berbalik menjumpai Sang Raja. Raja menanyakan  kenapa dia kembali. Dia pun menjawabnya. “Paduka, semua orang meratapiku karena saya telah menjadi seorang petapa. Padahal saya tidak melakukan hal seperti itu. Tetapi ucapan yang demikian baik itu tidak boleh diabaikan dan dengan ini saya meminta izin paduka untuk menjadi seorang pertapa!’.
Sang Bodhisatta kemudian menjelaskan keadaannya dalam bait berikut :
Wahai Paduka, ketika orang mengelu-elukan kita didalam nama kesucian, maka kita pun harus melakukan demikian. Kita tidak boleh ragu-ragu dan tidak melakukannya; kita akan memikul akibatnya. Wahai Paduka, nama ini telah dianugerahkan kepadaku; Hari ini mereka meratapi bagaimana saya menjadi pertapa suci. Karena itu saya akan hidup dan mati sebagai petapa. Saya tidak lagi tertarik dengan nafsu dan kesenangan indriawi.
Demikianlah Bodhisatta memohon izin kepada raja untuk menjalankan kehidupan suci sebagai seorang pertapa dan pergi ke pergunungan Himalaya. Dia mengembangkan kesaktian, pencapaian Jhana dan akhirnya terlahir kembali kealam Brahma
Pada masa itu Ananda adalah Sang Raja dan Sang Bodhisatta adalah anak dari pedagang kaya itu.


Kisah ini diambil dari Kalyana Dhamma Jataka dan disadur dari cerita-jataka.blogspot.com

Komentar

Postingan Populer