Tuan Tanah dan Ibu Mertua yang Tuli
Sejak jaman dahulu kala, sudah terdapat banyak sekali cerita-cerita penuh makna yang jarang sekali diketahui oleh khalayak ramai. Di postingan kali ini akan diceritakan kembali sebuah cerita Buddhis penuh dengan makna tentang seorang tuan tanah yang sangat baik hati dan ibu mertuanya yang tuli. Untuk mengetahui makna dan pesan moral apa saja yang terkandung didalamnya, mari kita simak kisah singkat ini.
Setelah makan, sang ibu mertua bertanya kepada anaknya dalam keadaan mengantuk,” Nak, apakah hidup kalian bahagia ? apakah kalian berdua saling akur ? ”
Sang Ibu yang tidak begitu jelas pendengarannya hanya bisa mendengar kata “pertapa”. Ia pun langsung menjerit keras. “Oh anakku, mengapa suami mu menjadi seorang pertapa ?” Dia bertanya dengan gaya yang berlebihan sehingga semua orang yang berada di dalam rumah itu dapat mendengarnya. Segera setelah itu semua orang di dalam rumah ikut berteriak, “ Berita Baru ! Tuan tanah telah menjadi seorang pertapa !”
Mendengar hal tersebut, sang tuan tanah berpikir, “Orang-orang mengatakan bahwa saya telah menjadi pertapa meskipun sebenarnya saya tidak melakukan hal seperti itu. Ini adalah sebuah ucapan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Baiklah, hari ini juga saya akan menjadi seorang pertapa.”
Sang Tuan tanah kemudian menceritakan semuanya kepada Sang Guru dan berkata “Sebuah ucapan yang baik tidak boleh diabaikan, Bhante. Demikianlah sekarang saya berada di sini dan ingin menjadi seorang pertapa”. Kemudian dia pun dithabiskan dan diupasampada serta menjalani kehidupan yang bijak. Dalam waktu singkat, dia pun mencapai tingkat Arahat.
Kisah ini diketahui oleh para Bhikkhu. Suatu hari, mereka membicarakannya di dalam balai kebenaran “Avuso, si tuan tanah menjalankan kehidupan suci sebagai seorang pertapa karena dia mengatakan ‘suatu ucapan beruntung tidak boleh diabaikan’. Sekarang dia mencapai tingkat kesucian Arahat” Kemudian Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pun memberitahu beliau. Sang Guru akhirnya berkata, “Para Bhikkhu, ada orang bijak di masa yang lampau juga menjadi seorang pertapa karena ia mengatakan bahwa suatu ucapan yang baik tidak boleh diabaikan.”
Kisah ini diambil dari Kalyana Dhamma Jataka dan disadur dari cerita-jataka.blogspot.com
Ketika
berada di Jetavana, Sang Guru menceritakan cerita tentang seorang ibu mertua
yang tuli dan tuan tanah. Pada suatu masa yang lampau, ada seorang tuan tanah
di Savatthi. Tuan tanah tersebut adalah seseorang yang percaya serta berlindung
di bawah Tri Ratna dan juga menjalankan lima sila. Suatu hari, dia pergi
untuk mendengarkan khotbah Sang Guru di Jetavana dengan membawa banyak sekali
mentega cair, berbagai jenis rempah-rempah, bunga-bunga, wewangian dan yang
lainnya. Di waktu yang sama, ibu mertuanya yang memiliki masalah pendengaran
datang mengunjungi rumah tuan tanah sambil membawa bingkisan makanan.
Setelah makan, sang ibu mertua bertanya kepada anaknya dalam keadaan mengantuk,” Nak, apakah hidup kalian bahagia ? apakah kalian berdua saling akur ? ”
“Mengapa
Ibu bertanya seperti itu ? Ibu bahkan tidak akan mudah mencari seorang pertapa
suci yang sangat baik dan berbudi seperti dirinya” jawab anaknya.
Sang Ibu yang tidak begitu jelas pendengarannya hanya bisa mendengar kata “pertapa”. Ia pun langsung menjerit keras. “Oh anakku, mengapa suami mu menjadi seorang pertapa ?” Dia bertanya dengan gaya yang berlebihan sehingga semua orang yang berada di dalam rumah itu dapat mendengarnya. Segera setelah itu semua orang di dalam rumah ikut berteriak, “ Berita Baru ! Tuan tanah telah menjadi seorang pertapa !”
Mendengar
keributan di dalam rumah itu, orang-orang segera datang berkumpul di depan
pintu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka pun mendengar suara ”Tuan
tanah yang tinggal di rumah ini telah menjadi pertapa!”
Sang tuan tanah sendiri sedang dalam perjalanan pulang kembali ke kota setelah mendengar khotbah dari Sang Buddha. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya kepada tuan tanah “Kenapa Tuan? Mereka mengatakan anda telah menjadi seorang petapa. Seluruh keluargamu dan pelayanmu sedang menangis di rumah.”
Sang tuan tanah sendiri sedang dalam perjalanan pulang kembali ke kota setelah mendengar khotbah dari Sang Buddha. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bertanya kepada tuan tanah “Kenapa Tuan? Mereka mengatakan anda telah menjadi seorang petapa. Seluruh keluargamu dan pelayanmu sedang menangis di rumah.”
Mendengar hal tersebut, sang tuan tanah berpikir, “Orang-orang mengatakan bahwa saya telah menjadi pertapa meskipun sebenarnya saya tidak melakukan hal seperti itu. Ini adalah sebuah ucapan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Baiklah, hari ini juga saya akan menjadi seorang pertapa.”
Tuang
tanah pun segera berjalan kembali menuju ke vihara dan bertemu dengan Sang
Guru. “Tadi anda telah mengunjungi Sang Buddha dan saya telah melihatmu pulang”
kata Sang Guru. ”Kiranya apa yang membawamu kembali lagi ke sini ?”
Sang Tuan tanah kemudian menceritakan semuanya kepada Sang Guru dan berkata “Sebuah ucapan yang baik tidak boleh diabaikan, Bhante. Demikianlah sekarang saya berada di sini dan ingin menjadi seorang pertapa”. Kemudian dia pun dithabiskan dan diupasampada serta menjalani kehidupan yang bijak. Dalam waktu singkat, dia pun mencapai tingkat Arahat.
Kisah ini diketahui oleh para Bhikkhu. Suatu hari, mereka membicarakannya di dalam balai kebenaran “Avuso, si tuan tanah menjalankan kehidupan suci sebagai seorang pertapa karena dia mengatakan ‘suatu ucapan beruntung tidak boleh diabaikan’. Sekarang dia mencapai tingkat kesucian Arahat” Kemudian Sang Guru masuk dan menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka pun memberitahu beliau. Sang Guru akhirnya berkata, “Para Bhikkhu, ada orang bijak di masa yang lampau juga menjadi seorang pertapa karena ia mengatakan bahwa suatu ucapan yang baik tidak boleh diabaikan.”
Sang
Guru kembali menceritakan sebuah kisah.
Dahulu
kala, ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, sang Bodhisatta terlahir sebagai
anak dari seorang saudagar kaya. Ketika dewasa, dia pun menggantikan kedudukan
ayahnya setelah ayahnya meninggal.
Suatu
saat dia pergi mengunjungi raja dan di waktu yang sama ibunya yang memilliki
kesulitan mendengar sedang mengunjungi anaknya. Kemudian hal yang sama terjadi
seperti apa yang telah diceritakan sebelumnya. Sang Boddhisatta saat itu sedang
dalam perjalanan pulang dari istana ketika dia berjumpa dengan seseorang di
tengah jalan. Orang tersebut juga berkata, “Mereka mengatakan anda telah
menjadi seorang pertapa dan telah terjadi kegemparan di rumahmu”
Bodhisatta pun memiliki pendapat yang sama dengan si tuan tanah itu bahwa ucapan yang baik tidak boleh diabaikan. Bodhisatta kemudian berbalik menjumpai Sang Raja. Raja menanyakan kenapa dia kembali. Dia pun menjawabnya. “Paduka, semua orang meratapiku karena saya telah menjadi seorang petapa. Padahal saya tidak melakukan hal seperti itu. Tetapi ucapan yang demikian baik itu tidak boleh diabaikan dan dengan ini saya meminta izin paduka untuk menjadi seorang pertapa!’.
Bodhisatta pun memiliki pendapat yang sama dengan si tuan tanah itu bahwa ucapan yang baik tidak boleh diabaikan. Bodhisatta kemudian berbalik menjumpai Sang Raja. Raja menanyakan kenapa dia kembali. Dia pun menjawabnya. “Paduka, semua orang meratapiku karena saya telah menjadi seorang petapa. Padahal saya tidak melakukan hal seperti itu. Tetapi ucapan yang demikian baik itu tidak boleh diabaikan dan dengan ini saya meminta izin paduka untuk menjadi seorang pertapa!’.
Sang
Bodhisatta kemudian menjelaskan keadaannya dalam bait berikut :
Wahai Paduka, ketika orang mengelu-elukan
kita didalam nama kesucian, maka kita pun harus melakukan demikian. Kita tidak
boleh ragu-ragu dan tidak melakukannya; kita akan memikul akibatnya. Wahai
Paduka, nama ini telah dianugerahkan kepadaku; Hari ini mereka meratapi
bagaimana saya menjadi pertapa suci. Karena itu saya akan hidup dan mati
sebagai petapa. Saya tidak lagi tertarik dengan nafsu dan kesenangan indriawi.
Demikianlah
Bodhisatta memohon izin kepada raja untuk menjalankan kehidupan suci sebagai
seorang pertapa dan pergi ke pergunungan Himalaya. Dia mengembangkan kesaktian,
pencapaian Jhana dan akhirnya terlahir kembali kealam Brahma
Pada masa itu Ananda adalah
Sang Raja dan Sang Bodhisatta adalah anak dari pedagang kaya itu.Kisah ini diambil dari Kalyana Dhamma Jataka dan disadur dari cerita-jataka.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar