Semakin Besar Keinginan, Semakin Sakit ketika Jatuh
Setiap orang pasti punya mimpi, keinginan dan harapan. Terkadang apa yang kita harapkan dan inginkan bukan untuk kepentingan diri kita sendiri, tetapi untuk orang lain. Memang, sebuah kebahagiaan muncul dari keinginan untuk membahagiakan orang lain dan sebuah penderitaan muncul dari niat untuk membahagiakan diri sendiri saja.
Namun semakin besar keinginan kita untuk membahagiakan orang lain, semakin besar juga rasa sakit yang kita dapat ketika keinginan tersebut gagal. Apalagi jika keinginan tersebut adalah keinginan untuk membahagiakan orang yang kita sayangi. Kebayang banget kan gimana rasa sakit dan kecewanya.
Berbeda dengan disaat kita ingin mencapai sesuatu untuk diri kita sendiri, jika keinginan tersebut gagal maka rasa kecewa yang kita alami tidak akan terlalu besar karena itu tidak menyangkut orang lain.
Sebagai contoh, disini gue akan tulis sebuah kisah yang pernah gue alami sendiri..
Akhir bulan Oktober tahun 2012 gue, dan 2 teman gue ( kita sebut A dan B ) mengikuti sebuah lomba akuntansi tingkat provinsi. Gue sebagai satu satunya peserta yang sudah pernah ikut lomba akuntansi tingkat jabodetabek (walaupun kalah) ingin lomba kali ini bisa menang. Secara ini sudah kelas 3, tahun sebelumnya sekolah gue menang jadi juara 1 di lomba itu, pasti lah gue dan kedua teman gue itu ingin menang lagi.
Kata si B "tahun ini terakhir gue sekolah disini, kelas 3 gue mau memberikan sesuatu yang spesial sebagai kenang kenangan"
Kata si A "kita harus menang, banyak guru yang sudah berkorban waktu buat membimbing kita"
Dua teman satu tim gue sudah ngomong begitu pasti gue juga ikutlah sama kaya mereka. Disini gue ingin menang lomba buat bikin bangga kedua teman gue yang sudah bersusah payah berusaha dan latihan. Gue harap, harapan mereka berdua bisa terkabul dan usaha mereka tidak sia sia. Gue juga ingin menang karena ingin buat guru-guru gue bangga, membuat usaha mereka memberikan latihan dan bimbingan tiap hari sampai sore gak sia-sia.
Apalagi gue latihan selama 1 bulanan. dari yang awalnya gue kurang begitu dekat sama kedua teman di tim gue (gue sempat marah, kesel, keki dan ingin mengundurkan diri dalam lomba karena tim yang gak kompak) sampai gue semangat latihan, menyemangati mereka dan akhirnya merasa solid plus kompak pas hari H lomba. Dari bercanda dan diskusi bareng sampai saling kesel dan marah, dari suasana latihan yang asik walaupun sudah latihan 2 jam sampai suasana latihan tegang dan gak asik walaupun cuma latihan 5 menit. Semuanya sudah pernah gue rasakan pas latihan lomba..
Dan rasa kompak, solid serta semua pengalaman inilah yang membuat keinginan gue semakin besar..
Tiba disaat hari H lomba, awalnya semua berjalan lancar. Walaupun susah gue dan kedua teman gue masih ketawa, bercanda, evaluasi, dan ngobrol bareng. Tapi pada saat akhir-akhir lomba gue ada sedikit beda pendapat tentang jurnal sama si B dan karena gue keras kepala akhirnya si B mengalah sama gue. Disaat presentasi juga ada pertanyaan sulit yang membingungkan tapi karena kedua teman gue bingung akhirnya gue menjawab pertanyaan itu menurut pendapat gue sendiri.
Sebelum pengumuman ada jeda waktu untuk istirahat, disana gue gak sengaja dengar jawaban jurnal yang gue debat dengan si B dan jawaban pertanyaan yang gue jawab dengan pendapat gue itu dari panitia. Saat itulah gue mulai mellow karena gue tau jawaban-jawaban itu salah. Feeling gue menyatakan kalau tim gue bakalan kalah. Karena mellow gue pergi jalan menyendiri, menghindar dari si A dan si B. Tapi beberapa lama kemudian si B datang dan bilang "Sudahlah gak usah mellow, belum tentu kita kalah kan. Kalau kalah pun itu bukan salah lu tapi itu salah tim. Kita kan satu tim". Saat itu gue gak bisa berkata apapun, gue gak berani menunjukan muka gue dan melihat kearah dia karena air mata gue mulai menetes disitu.
Setelah beberapa lama, gue coba untuk kuat dan tetap tersenyum. Tetapi sesuai dengan firasat gue, tim gue kalah di lomba itu. gue mulai mellow lagi tapi gue coba untuk tetap senyum dihadapan guru-guru dan teman-teman gue. Berbagai alibi gue pake untuk nutupin mata gue yang merah..
Disini gue mellow dan sedih bukan karena kalah.. Gue sedih karena gue sangat amat berharap kedua teman gue bisa merasakan asiknya ikut lomba dan menjadi pemenang dalam lomba. Gue mau buat kedua teman gue dan guru-guru gue bangga dan bahagia, gue mau usaha mereka gak sia-sia, gue mau memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi pada akhirnya gue lah yang membuat kesalahan dan menyebabkan tim gue kalah karena gue yang keras kepala dan egois sehingga semua keinginan gue untuk membuat mereka bahagia gagal total.
Rasanya tuh sakit dan mellow banget. Sampai di perjalanan pulang, di angkot, di rumah air mata gue terus mengalir. Bahkan 3 orang teman gue selain si A dan si B turun tangan untuk menasihati gue. Tapi walaupun sudah dinasihati dan dihibur oleh banyak orang, gue masih mellow sampai 2 hari setelah hari H.
Sampai sekarang jika gue melihat piala lomba itu yang tahun sebelumnya di sekolah dan mengingat kondisi tim gue saat itu yang kompak banget (setelah lomba si A dan B marahan, gue dan si B juga seperti strangers) mata gue masih suka berkaca-kaca dan meneteskan air mata..
Hikmahnya, gue jadi tau kalau gue mau bahagiakan orang lain, gue harus jadi pribadi yang kuat terlebih dahulu..
Dan sekarang gue akan terus berusaha untuk semakin menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.
So, kita boleh mempunyai keinginan akan tetapi kita harus tau juga kemampuan kita.
Keinginan membahagiakan orang lain memang bagus, namun untuk itu kita harus menjadi pribadi yang kuat terlebih dahulu sehingga ketika kita jatuh kita tidak akan merasakan rasa sakit yang parah dan bahkan mungkin bisa ikut membatu 'membangunkan' orang lain yang ingin kita buat bahagia saat mereka terjatuh :)
Namun semakin besar keinginan kita untuk membahagiakan orang lain, semakin besar juga rasa sakit yang kita dapat ketika keinginan tersebut gagal. Apalagi jika keinginan tersebut adalah keinginan untuk membahagiakan orang yang kita sayangi. Kebayang banget kan gimana rasa sakit dan kecewanya.
Berbeda dengan disaat kita ingin mencapai sesuatu untuk diri kita sendiri, jika keinginan tersebut gagal maka rasa kecewa yang kita alami tidak akan terlalu besar karena itu tidak menyangkut orang lain.
Sebagai contoh, disini gue akan tulis sebuah kisah yang pernah gue alami sendiri..
Akhir bulan Oktober tahun 2012 gue, dan 2 teman gue ( kita sebut A dan B ) mengikuti sebuah lomba akuntansi tingkat provinsi. Gue sebagai satu satunya peserta yang sudah pernah ikut lomba akuntansi tingkat jabodetabek (walaupun kalah) ingin lomba kali ini bisa menang. Secara ini sudah kelas 3, tahun sebelumnya sekolah gue menang jadi juara 1 di lomba itu, pasti lah gue dan kedua teman gue itu ingin menang lagi.
Kata si B "tahun ini terakhir gue sekolah disini, kelas 3 gue mau memberikan sesuatu yang spesial sebagai kenang kenangan"
Kata si A "kita harus menang, banyak guru yang sudah berkorban waktu buat membimbing kita"
Dua teman satu tim gue sudah ngomong begitu pasti gue juga ikutlah sama kaya mereka. Disini gue ingin menang lomba buat bikin bangga kedua teman gue yang sudah bersusah payah berusaha dan latihan. Gue harap, harapan mereka berdua bisa terkabul dan usaha mereka tidak sia sia. Gue juga ingin menang karena ingin buat guru-guru gue bangga, membuat usaha mereka memberikan latihan dan bimbingan tiap hari sampai sore gak sia-sia.
Apalagi gue latihan selama 1 bulanan. dari yang awalnya gue kurang begitu dekat sama kedua teman di tim gue (gue sempat marah, kesel, keki dan ingin mengundurkan diri dalam lomba karena tim yang gak kompak) sampai gue semangat latihan, menyemangati mereka dan akhirnya merasa solid plus kompak pas hari H lomba. Dari bercanda dan diskusi bareng sampai saling kesel dan marah, dari suasana latihan yang asik walaupun sudah latihan 2 jam sampai suasana latihan tegang dan gak asik walaupun cuma latihan 5 menit. Semuanya sudah pernah gue rasakan pas latihan lomba..
Dan rasa kompak, solid serta semua pengalaman inilah yang membuat keinginan gue semakin besar..
Tiba disaat hari H lomba, awalnya semua berjalan lancar. Walaupun susah gue dan kedua teman gue masih ketawa, bercanda, evaluasi, dan ngobrol bareng. Tapi pada saat akhir-akhir lomba gue ada sedikit beda pendapat tentang jurnal sama si B dan karena gue keras kepala akhirnya si B mengalah sama gue. Disaat presentasi juga ada pertanyaan sulit yang membingungkan tapi karena kedua teman gue bingung akhirnya gue menjawab pertanyaan itu menurut pendapat gue sendiri.
Sebelum pengumuman ada jeda waktu untuk istirahat, disana gue gak sengaja dengar jawaban jurnal yang gue debat dengan si B dan jawaban pertanyaan yang gue jawab dengan pendapat gue itu dari panitia. Saat itulah gue mulai mellow karena gue tau jawaban-jawaban itu salah. Feeling gue menyatakan kalau tim gue bakalan kalah. Karena mellow gue pergi jalan menyendiri, menghindar dari si A dan si B. Tapi beberapa lama kemudian si B datang dan bilang "Sudahlah gak usah mellow, belum tentu kita kalah kan. Kalau kalah pun itu bukan salah lu tapi itu salah tim. Kita kan satu tim". Saat itu gue gak bisa berkata apapun, gue gak berani menunjukan muka gue dan melihat kearah dia karena air mata gue mulai menetes disitu.
Setelah beberapa lama, gue coba untuk kuat dan tetap tersenyum. Tetapi sesuai dengan firasat gue, tim gue kalah di lomba itu. gue mulai mellow lagi tapi gue coba untuk tetap senyum dihadapan guru-guru dan teman-teman gue. Berbagai alibi gue pake untuk nutupin mata gue yang merah..
Disini gue mellow dan sedih bukan karena kalah.. Gue sedih karena gue sangat amat berharap kedua teman gue bisa merasakan asiknya ikut lomba dan menjadi pemenang dalam lomba. Gue mau buat kedua teman gue dan guru-guru gue bangga dan bahagia, gue mau usaha mereka gak sia-sia, gue mau memberikan yang terbaik untuk mereka. Tapi pada akhirnya gue lah yang membuat kesalahan dan menyebabkan tim gue kalah karena gue yang keras kepala dan egois sehingga semua keinginan gue untuk membuat mereka bahagia gagal total.
Rasanya tuh sakit dan mellow banget. Sampai di perjalanan pulang, di angkot, di rumah air mata gue terus mengalir. Bahkan 3 orang teman gue selain si A dan si B turun tangan untuk menasihati gue. Tapi walaupun sudah dinasihati dan dihibur oleh banyak orang, gue masih mellow sampai 2 hari setelah hari H.
Sampai sekarang jika gue melihat piala lomba itu yang tahun sebelumnya di sekolah dan mengingat kondisi tim gue saat itu yang kompak banget (setelah lomba si A dan B marahan, gue dan si B juga seperti strangers) mata gue masih suka berkaca-kaca dan meneteskan air mata..
Hikmahnya, gue jadi tau kalau gue mau bahagiakan orang lain, gue harus jadi pribadi yang kuat terlebih dahulu..
Dan sekarang gue akan terus berusaha untuk semakin menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.
So, kita boleh mempunyai keinginan akan tetapi kita harus tau juga kemampuan kita.
Keinginan membahagiakan orang lain memang bagus, namun untuk itu kita harus menjadi pribadi yang kuat terlebih dahulu sehingga ketika kita jatuh kita tidak akan merasakan rasa sakit yang parah dan bahkan mungkin bisa ikut membatu 'membangunkan' orang lain yang ingin kita buat bahagia saat mereka terjatuh :)
Komentar
Posting Komentar